Selasa, 16 April 2013

Linguistik Sebagai Ilmu



A.  Linguistik Sebagai Ilmu
Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Atau lebih tepatya seperti yang dikatakan Martinet (1987:19) telaah ilmiah mengenai bahasa manusia. Benarkah linguistic adalah sebuah ilmu? Sebuah telaah ilmiah?
Untuk itu perlu adanya kajian lebih lanjut.
1.1 Keilmiahan Linguistik
            Sebelum membicarakan keilmiahan linguistik ada baiknya dibicaraka dulu  tahap-tahap perkembangan yang pernah terjadi dalam setiap disiplin ilmu, agar kita bisa memahami bagaimana sifat-sifat atau ciri-ciri keilmiahan dari suatu kegiatan yang disebut ilmiah, khususnya di sini dalam disiplin linguistik. Pada dasarnya setiap ilmu, termasuk juga ilmu linguistik, telah mengalami tiga perkembangan sebagai berikut:
a.       Tahap kertama, yakni tahap spekulasi. Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.
b.      Tahap kedua, adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Cara yang seperti ini belum bisa dikatakan “ilmiah” sebab belum sampai pada penarikan suatu teori.
c.       Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap inisetiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan.
Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap di atas. Artinya, disiplin linguistik itu sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah. Selain itu, bisa dikatakan ketidakspekulatifan dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan.
Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Kegiatan linguistik juga tidak boleh “dikotori” oleh pengetahuan dan keyakinan si peneliti.
Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris.  Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. Kesimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif. Kemudian kesimpulan ini diuji lagi pada data empiris yang diperluas. Jadi, perlu diwaspadai dan direvisi.
Dalam ilmu logika atau ilmu menalar selain adanya penalaran secara induktif ada juga penalaran secara deduktif.
Ø  Secara induktif, mula-mula dikumpulkan data secara khusus, lalu dari kata-kata khusus itu ditarik kesimpulan umum
Ø  Secara deduktif adalah kebalikannya. Artinya, suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesumpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang lazim disebut premis mayor, yang dipakai untuk mencari kesimpulan deduktif itu.

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik serig juga disebut sebagai ilmu nomotetik. Kemudian sesuai dengan predikat keilmiahan yang disandangnya linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan, tetapi akan terus menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.
Linguistik medekati bahasa yang menjadi objek kajiannya. Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa yang akan diuraikan pada Bab 3, dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut:
1.         Karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi.
2.         Karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.
3.         Karena bahasa adalah suatu system, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu sengan lainnya mempunyai jarring-jaring hubunga (sruktural).
4.         Karena bahasa itu bisa berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan social budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis.
5.         Karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara peskriptif.
1.2 Subdisiplin Linguistik
            Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah-masalah lain. Demikian pula dengan ilmu linguistik. Mengingat bahwa objek linguistik yaitu bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat, sedangkan kegiatan itu sangat luas, maka subdisiplin linguistik itu pun menjadi sangat banyak. Disini kita akan mencoba mengelomokkan nama-nama subdisiplin linguistik itu berdasarkan:
a.      objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus

Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pernyataan-pernyataan teoritis yang dihasilkan aka menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu.
Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa Inggris, bahasa Indonesia, atau bahasa Jawa.

b.      objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Misalnya, mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua pulunan, bahasa Jawa dewasa ini, atau juga bahasa Inggris pada zaman Wiliam Shakespeare. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut juga linguistik deskriptif.
Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas, bisa sejak awal kelahiran bahasa itu sampai zaman punahnya bahasa tersebut (kalau bahasa tersebut sudah punah, seperti bahasa Latin dan bahasa Sansekerta), atau sampai zaman sekarang (seperti bahasa Arab dan bahasa Jawa). Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komparatif.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar